
Sore itu, selepas menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan yang mengharuskan seharian berada di Kulon Progo, begitu memasuki wilayah Bantul setelah menyeberangi jembatan perbatasan dengan Kulon Progo, saya menyempatkan diri berbelok ke arah pantai itu, sekedar merefresh memori lama sekaligus merecharge rangsangan kreatifitas, sejenak menghela nafas menjauh dari "jarum jam" yang terus berputar. Tapi yang lebih penting dengan memandang permadani biru yang bergelombang menghampar seperti tak berbatas ini mungkin bisa agak membantu untuk menata kembali hati, pikiran dan perasaan ini, yang selama tepat satu tahun ini, menurut beberapa orang mungkin telah bergolak keluar dari logika.
Angin sore sangat kencang menerpa tubuh yang agak kelelahan, tapi percikan uap-uap air yang ikut terbawa menjadikan kesegaran dan sensasi khas udara pantai, meski suara hembusannya yang berderu menggemuruh cukup memekakkan menerjang tepat ke arah telinga.
Pasir yang ringan membuat dua kaki ini menapak dalam-dalam, sedikit terbenam ke dalam, membuatnya menyeret seperti kerukan pasir yang susul menyusul ketika beranjak bergerak langkah demi langkah, meninggalkan bekas-bekas yang menandakan tapak-tapak sisa perjalanan. Cukup sulit mengangkat kaki, terlebih ketika menemui gundukan yang menanjak agak tinggi.
Masih sangat sepi, karena memang biasanya orang-orang berdatangan sekedar berolahraga, bermain air, bercengkrama bersama keluarga, atau hanya duduk-duduk di bibir pantai ketika matahari sudah menjelang terbenam, itu berarti masih sekitar satu jam lagi pantai ini mulai agak ramai. Menurut standar pantai ini tampak 20 orang saja di area ini sudah bisa didefinisikan sebagai "ramai".
Tak tampak seorang pun saat itu hingga dari arah barat muncul seorang laki-laki setengah baya membawa satu set jaring penagkap ikan, berjalan terus sambil sesekali berhenti memandang ke arah laut, mungkin dia mencari posisi yang paling manis untuk menebar jala dari bibir pantai. Saya mencoba mengikutinya dari kejauhan, karena memang belum tampak manusia yang lain selain bapak penjala ikan itu akhirnya saya duduk sejenak memperhatikan aktivitas satu-satunya manusia selain saya di tempat itu. Lubang-lubang jaring jala yang dibawa bapak itu adalah seleksi nasib yang berlawanan antara si bapak dan bagi si ikan, ikan yang lolos dari lubang jaring berarti dia masih punya kesempatan hidup dan ikan yang lolos itu harus belajar dari kesalahan yaitu "bahwa bermain-main di di dekat daratan ternyata memiliki resiko maut tertangkap manusia". Tapi di sisi bagi si bapak itu, seleksi nasib dari lubang jaring itulah menjadi jawaban bahwa hidup keluarga si bapak penjala ini masih bisa berlanjut, rejeki Allah melalui ikan yang tersangkut, dapur masih bisa berasap.
Merasa cukup memperhatikan bapak penjala ikan itu, saya berjalan ke timur ke arah barisan armada perahu nelayan yang siap "terbang" ke tengah laut nanti malam. Perahu-perahu inilah yang akan menjadi pengantar upaya bertahan hidup sekaligus saksi takdir bagi nelayan yang menaikinya, karena sekali turun ke laut selatan, laut yang ombaknya terkenal sangat beringas itu, berarti keluarga di rumah harus siap menerima kepulangan si ayah dengan berbagai opsi fifty-fifty. Opsi yang paling sering adalah opsi pertama, yaitu ayah pulang dengan tumpukan ikan segar beraroma uang. Atau opsi kedua, yaitu ayah pulang dalam bentuk nama lebih dulu, baru kemudian tubuh sang ayah yang sudah tanpa nyawa menyusul ke daratan beberapa hari kemudian. Atau beberapa opsi lain yang mungkin lebih menyedihkan.
Nelayan tradisional seperti mereka lebih mengandalkan ilmu kebiasaan dan perasaan, mereka mungkin tidak sepenuhnya mengenal peta laut dan tidak kenal klimatologi modern, navigasi pun hanya mengandalkan bintang dan mercusuar di tepi pantai yang sangat mungkin tertutup kabut sepanjang malam. Meskipun tidak mengenal dengan detail tapi para nelayan ini memiliki sense atau perasaan tersendiri yang membuat mereka memiliki keyakinan untuk berani melaut dan mempertaruhkan hidupnya ke dalam sesuatu "yang tidak sepenuhnya mereka kenal secara mendalam itu", keyakinan yang bukan tanpa alasan dan sebenarnya memang realistis.
Tapi tindakan yang hanya mengandalkan "sense" inilah yang kadang membuat manusia tidak berpikir logis lagi pada suatu kondisi tertentu, semacam imajinasi yang gambarannya terkesan sangat indah namun bagaimanapun yang namanya imajinasi tetap imajinasi, dan imajinasi yang berada di luar rasio dan logika mungkin hanyalah mimpi palsu yang melenakan manusia, hingga membuat kita bisa "sedikit" terpeleset dari track etika yang seharusnya. Karena pada suatu kondisi tertentu manusia memang bisa berada dalam perasaan semu dan sikap irasional yang bagi diri sendiri ini adalah mimpi indah, dan karena mimpi indah itulah yang membuatnya lupa bahwa mimpi indah itu ternyata bisa merupakan suatu mimpi buruk bagi orang lain. Sering kita tidak menyadari telah terjebak dalam hal yang satu ini, kelihatannya saya sendiri masih harus banyak belajar dan berproses sendirian dalam hal ini.
Pukul 5 sore telah lewat, dan benar saja, orang-orang mulai berdatangan, mengambil posisi masing-masing di beberapa titik yang disukainya, sedang beberapa pemuda terlihat berlari-lari kecil berolahraga menyusuri pantai. Mengalihkan pandangan agak jauh ke sudut tenggara, dimana terlihat beberapa anak bermain-main mengejar-ngejar kepiting kecil yang banyak besembunyi di lubang-lubang pasir. Kasihan kepiting itu berlari-larian mencoba tetap melindungi diri dengan menutupi diri dengan pasir.
Ada tiga kemungkinan utama dalam urusan kejar mengejar ini, yang pertama beberapa anak mungkin memang akan menangkap kepiting kecil itu untuk sekedar dipakai bermain-main bersenang-senang tanpa tujuan jelas. Kemungkinan kedua adalah diantara mereka mungkin ingin menangkap kepiting itu untuk diselamatkan dan disembunyikan untuk dilindungi agar tidak jadi bahan mainan anak-anak yang lain. Sedangkan kemungkinan yang ketiga mereka mengejar-ngejar kepiting itu karena mereka benar-benar membutuhkan kepiting itu untuk sesuatu yang penting, seperti untuk dijual demi memperbaiki ekonomi keluarga. Karena menurut mereka "mungkin hanya kepiting itulah" yang bisa membantu mereka dalam memperbaiki jalan hidupnya atau untuk mencapai suatu "tujuan mulia suatu cita cita istimewa", "ah... andai kepiting itu bisa memahami isi hati mereka yang terdalam tentu kepiting itu tidak akan lari menjauh". Hanya Allah yang tahu. Dan kemungkinan-kemungkinan semacam ini sangat sering menjadi dilema dalam kehidupan kita sehari-hari, sadar maupun tidak, dan kita sering kurang peka dalam memahami suatu niat dan maksud terdalam dibalik bermacam variasi tindakan-tindakan manusia dalam berinteraksi dengan diri kita.


Ini dia frame yang memuakkan, ceceran sampah.
Pantai ini butuh perhatian dan sedikit sentuhan penataan. Potensi pantai-pantai alami di sepanjang garis pantai selatan memiliki karakter eksotik-nya masing-masing, hanya sisi promosi-lah dan akses masuknya saja yang membedakan. Ini mengakibatkan mubazirnya peluang pembangunan ekonomi dan potensi alam, terlihat dengan adanya beberapa bangunan yang semula dibangun dan diperuntukkan sebagai fasilitas umum kini terbengkalai tak terawat.
Meskipun dengan dibiarkan saja seperti inipun sebenarnya masyarakat sekitar juga sudah banyak memperoleh peluang ekonomi, namun tentunya tidak maksimal dan tanpa peningkatan. Beberapa warga setempat malah mengaku lebih senang jika pantai tidak dikomersilkan, dibiarkan alami begitu saja, mungkin ada kekhawatiran dari beberapa warga terhadap lahirnya persaingan dengan kepentingan kapitalistik dan bisa mengancam mata pencahariannya yang sudah dijalani turun temurun ini atau ketakutan terhadap goyahnya tatanan sistem sosial budaya yang sudah terbentuk damai di wilayah ini.
Tapi apakah memang sebaiknya suatu kondisi yang telah berjalan baik mungkin seharusnya dibiarkan berjalan alami saja? Apalagi kondisi ini sangat rapuh dan terjaga, yang jika hanya berbekal feelling saja malah sangat beresiko merusak suasana dan tatanan hubungan yang sudah baik, benarkah memang seharusnya demikian?
Tapi jika hanya menunggu semua berjalan alami apakah mimpi itu akan terwujud sendiri? Kadang memang dibutuhkan suatu dobrakan berani untuk menyingkap rahasia, yang biasanya menyalahi kaidah dan kebiasaan, yang bisa jadi akan merubah kesan dan image diri, yang membuat diri kita sendiri seperti menjadi orang lain. Bagaimanapun setiap tindakan selalu memiliki resiko, salah satunya berujung pada antiklimaks dari suatu harapan, yaitu kita malah menjadi semakin jauh dari tujuan yang ingin dicapai itu jika dibandingkan ketika sebelum melakukan suatu tindakan apapun. Jadi... memang every brave heart is always facing an unexpected action risk.
Oke, saatnya melanjutkan perjalanan lagi. Matahari telah makin menguning dan kini meringkuk menyudut hilang menyisakan semburat pita jingga halus yang unik. Semoga besok pagi ketika dia muncul kembali dari arah timur muncul pula suatu kejutan keajaiban yang tak terduga, kalaupun tidak semoga saja segalanya bisa kembali berjalan wajar seperti biasanya.
0 comments:
Post a Comment