
Minggu lalu seorang sahabat saya istrinya mau melahirkan, dia butuh darah AB cukup banyak karena terjadi pendarahan, selama proses operasi sesar, saat itu juga dalam waktu mepet, yang mungkin untuk sekedar menarik napas saja terasa membuang waktu, sementara rumah sakit kehabisan darah, di rumah sakit lain bahkan di PMI setempat stoknya kebetulan sedang kosong, Bertanya ke semua kenalannya tidak ada yang punya darah AB, padahal waktu terus berputar dan darah istrinya terus mengalir keluar. Akhirnya dia mendapat informasi bahwa masih ada darah AB di PMI wilayah lain yang berjarak lebih dari 15 Km dari rumah sakit tempat istrinya berada. Tanpa pikir dua kali langsung dia meluncur dengan sepeda motor, bersama saya yang membonceng dibelakang, sore hari menjelang buka puasa pukul 17.20. Apa yang terjadi selama perjalanan ?
Selama perjalanan, kami sama sekali tidak saling bicara, sahabat saya tampak tegang dan kaku, bahkan ketika saya meminta agar dia membonceng saja, dia tetap tak menyahut. Jarum spidometer sangat jarang menunjukkan angka kurang dari 80 Km/jam, kami 3 kali menerabas lampu merah, beberapa kali hampir terserempet mobil, 2 kali nyaris saja menabrak pejalan kaki dan sekali motor kami menyerempet seorang bapak bersepeda yang membawa sekarung rumput. Saya menengok ke belakang, bapak itu jatuh bersama sepedanya, “ Wan, Wan, wonge tibo wan, piye iki, mosok awake dewe bablas wae iki...( Wan, Wan, orangnya jatuh wan, masak kita tetap jalan terus ....)” ,kataku gugup, sambil terus menepuk-nepuk pundaknya. Sama sekali dia tak mempedulikan ketakutanku, kami tetap melaju.
Kantong darah berhasil didapat. Untungnya, saat kembali, ada mobil ambulance yang mengantar, sahabat saya ikut ambulance, dan saya membawa motor, tapi lewat jalan yang lain, meski lebih jauh tapi setidaknya antisipasi siapa tahu ada yang masih mengenali, bisa-bisa sendirian digebukin orang nanti.
Tapi ternyata bukan cuma orang lain yang tidak di kenal bisa menjadi korban kita, orang–orang yang mungkin kita kenal baik-baik pun bisa sadar atau tidak menjadi makanan kita. Pasti sering kita menyaksikan baik di televisi atau bahkan secara langsung ketika ada cara bagi-bagi sembako, atau pada saat Hari Raya Kurban di masjid masjid besar, Istiqlal misalnya, bisa dipastikan di sana selalu banyak masa yang mengantri tertib hanya dalam sekian menit saja, selanjutnya bisa ditebak, terjadilah kekacauan, berebut kalang kabut, dorong sana dorong sini, gencet sana gencet sini, sikut atas sikut bawah, tak peduli wanita, anak-anak, bahkan nenek-nenek renta yang untuk sekedar berdiri saja harus berjuang keras kini mereka lihat sebagai ancaman besar, menjadi seperti “saingan berat” yang bisa menggagalkan tujuan untuk mendapat se-onggok daging.
Daging berhasil di dapat dan dengan senyum kemenangan meninggalkan “medan laga”, belum cukup sampai di situ, bahkan untuk sekedar ingat kepada para pengantri lain yang sama-sama butuh makan pun tidak. Lihat saja, tidak sedikit yang membawa pulang lebih dari jatah yang seharusnya diterima. Perut memang tak bisa diajak bicara baik-baik ya ?
Nah itulah yang saya maksud dengan raja sehari, dalam keadaan seperti itu kita sepertinya langsung punya label halal dan sah sah saja melakukan apapun, melanggar aturan, membahayakan diri bahkan orang lain, hingga mencelakai dan merugikan orang lain pun sepertinya bisa dimaklumi dan dimaafkan. Dimaklumi? Dimaafkan ? Emang bener gitu ya?
Memang dalam hal ini, terlebih ketika nyawa orang tercinta menjadi taruhan dan kemudian kita seperti sudah kehilangan akal logis dan pikiran dewasa, tapi apakah dengan demikian kita juga boleh mempertaruhkan kepentingan orang lain, mempertaruhkan nyawa orang lain ? hmm....
Oke, suatu saat ketika kita dalam kondisi genting seperti itu dan lalu kita berhasil melewatinya, semoga saja tidak terjadi pada saat yang bersamaan tiba-tiba di kepala kita keluar dua tanduk kecil, wajah memerah dan alis meruncing sambil tersenyum terkekeh-kekeh dalam hati, merayakan kemenangan.
0 comments:
Post a Comment