" JANGAN PERNAH LUPA... GLOBAL WARMING TELAH SIAP MENGHANCURKAN BUMI INI !!!!
Have a nice day.....but don't ever forget to take a look around
.......there's must be somebody or something needs you.....

.......let's check it out.

Wednesday, December 11, 2013

REMIDI SMANSA


KERJAKAN TUGAS/SOAL-SOAL YANG ADA DI BAWAH NAMA KALIAN MASING-MASING !!!
YANG NAMANYA TIDAK ADA DI SINI BERARTI SUDAH TUNTAS/MENCAPAI KKM, TETAPI JIKA INGIN MENYEMPURNAKAN POIN NILAI, BAGI YANG BERMINAT, SILAKAN ISENG-ISENG MENGERJAKAN SOAL-SOAL YANG ADA DI BAGIAN PALING BAWAH POSTING/TULISAN INI. DAN MOHON BANTUANNYA JUGA UNTUK IKUT MEMBANTU TEMAN-TEMAN KALIAN YANG TERPAKSA HARUS REMIDI….JIKA BINGUNG ATAU ADA KESULITAN SILAKAN SMS SAYA 0815 68 440 779 ….
PENGUMPULAN TUGAS, SILAKAN KIRIM LEWAT E-MAIL : ardheve@gmail.com PALING LAMBAT HARI SABTU MALAM TANGGAL 14 DES PUKUL 22.00 WIB.

ATAU MELALUI PESAN FACEBOOK : ardhian hevea PALING LAMBAT HARI SABTU MALAM TANGGAL 14 DES PUKUL 22.00 WIB.
ATAU LEWAT SMS : 0856 429 88 011, PALING LAMBAT HARI SABTU MALAM TANGGAL 14 DES PUKUL 22.00 WIB.
ATAU BISA JUGA DIKUMPULKAN DI MEJA SAYA, PALING LAMBAT HARI JUM’AT PAGI TANGGAL 13 DES PUKUL 10.00 WAKTU SMANSA….



************************************************
FAJAR WASONO

  1. Bagaimana Terjadinya Perubahan Sosial Dalam Pandangan Multilined Theory Of Evolutions?
  2. Ada Sekelompok Masyarakat Yang Tidak Mau Berubah, Mereka Sangat Ingin Mempertahankan Tradisi Nenek Moyangnya Dan Menganggap Perubahan Sosial Terutama Yang Mengarah Kepada Modernisasi Dan Teknologi Hanya Akan Merusak Tatanan Sistem Sosial Budaya Mereka. Bagaimana Pandanganmu Mengenai Realitas Sosial Tersebut?
  3. Mengapa Munculnya Suatu Penemuan Baru Bisa Membuat Suatu Perubahan Sosial?
  4. Mengapa Masyarakat Membutuhkan Subsidiary Institutions?
  5. Bagaimana Suatu Enacted Institutions Bisa Terbentuk?
  6. Bagaimana Suatu Keluarga Menerapkan Fungsi Proteksinya?
  7. Agama Juga Memiliki Fungsi Laten Sebagai Sarana Mengembagkan Kesenian, Apa Maksudnya?
  8. Untuk Apa Ada Remidi?
  9. Mengapa Kamu Harus Remidi?
  10. Remidi Buat Kamu Adalah Suatu Keuntungan Atau Kerugian? Mengapa?
  11. Mengapa Kamu Mengerjakan Remidi Ini?
  12. Apa Yang Kamu Harapkan Setelah Mengerjakan Remidi Ini?

LAZUARDI DIANTONO

  1. Bagaimana Teori Siklus Memandang Suatu Perubahan Sosial?
  2. Bagaimana Pandanganmu Mengenai Perkembangan Modernisasi Di Indonesia?
  3. Untuk Apa Ada Regulative Institutions?
  4. Keluarga Juga Memiliki Fungsi Sebagai Sarana Menutup Rasa Malu Bagi Remaja-Remaja Yang Terlanjur Hamil Duluan Sebelum Menikah,  Menurutmu Fungsi Keluarga Sebagai Sarana Menutup Rasa Malu Tersebut Merupakan Fungsi Manifes Atau Laten, Jelaskan!
  5. Untuk Apa Ada Remidi?
  6. Mengapa Kamu Harus Remidi?
  7. Remidi Buat Kamu Adalah Suatu Keuntungan Atau Kerugian? Mengapa?
  8. Mengapa Kamu Mengerjakan Remidi Ini?
  9. Apa Yang Kamu Harapkan Setelah Mengerjakan Remidi Ini?

NATALIA RATNA

  1. Bagaimana Terjadinya Perubahan Sosial Dalam Pandangan Multilined Theory Of Evolutions?
  2. Mengapa Munculnya Suatu Penemuan Baru Bisa Membuat Suatu Perubahan Sosial?
  3. Mengapa Masyarakat Tidak Akan Pernah Berhenti Mengalami Perubahan Sosial?
  4. Menurutmu Bagaimana Caranya Agar Kita Tidak Menjadi Seorang Yang Memiliki Sikap Sekularisme?
  5. Mengapa Basic Institution Itu Penting?
  6. Mengapa Masyarakat Membutuhkan Subsidiary Institutions?
  7. Keluarga Juga Memiliki Fungsi Sebagai Sarana Menutup Rasa Malu Bagi Remaja-Remaja Yang Terlanjur Hamil Duluan Sebelum Menikah,  Menurutmu Fungsi Keluarga Sebagai Sarana Menutup Rasa Malu Tersebut Merupakan Fungsi Manifes Atau Laten, Jelaskan!
  8. Untuk Apa Ada Remidi?
  9. Mengapa Kamu Harus Remidi?
  10. Remidi Buat Kamu Adalah Suatu Keuntungan Atau Kerugian? Mengapa?
  11. Mengapa Kamu Mengerjakan Remidi Ini?
  12. Apa Yang Kamu Harapkan Setelah Mengerjakan Remidi Ini

NATASHA ISABELA

  1. Ada Sekelompok Masyarakat Yang Tidak Mau Berubah, Mereka Sangat Ingin Mempertahankan Tradisi Nenek Moyangnya Dan Menganggap Perubahan Sosial Terutama Yang Mengarah Kepada Modernisasi Dan Teknologi Hanya Akan Merusak Tatanan Sistem Sosial Budaya Mereka. Bagaimana Pandanganmu Mengenai Realitas Sosial Tersebut?
  2. Apa Saja Ancaman Globalisasi Yang Memiliki Potensi Besar Untuk Merusak Bangsa Indonesia?
  3. Bagaimana Suatu Keluarga Menerapkan Fungsi Proteksinya?
  4. Agama Juga Memiliki Fungsi Laten Sebagai Sarana Mengembagkan Kesenian, Apa Maksudnya?
  5. Untuk Apa Ada Remidi?
  6. Mengapa Kamu Harus Remidi?
  7. Remidi Buat Kamu Adalah Suatu Keuntungan Atau Kerugian? Mengapa?
  8. Mengapa Kamu Mengerjakan Remidi Ini?
  9. Apa Yang Kamu Harapkan Setelah Mengerjakan Remidi Ini?

NAUFAL HANIF

  1. Bagaimana Teori Siklus Memandang Suatu Perubahan Sosial?
  2. Bagaimana Terjadinya Perubahan Sosial Dalam Pandangan Multilined Theory Of Evolutions
  3. Mengapa Virus N-Ach Bisa Membuat Suatu Perubahan Sosial?
  4. Bagaimana Pandanganmu Mengenai Perkembangan Modernisasi Di Indonesia?
  5. Untuk Apa Ada Regulative Institutions?
  6. Agama Juga Memiliki Fungsi Laten Sebagai Sarana Mengembagkan Kesenian, Apa Maksudnya?
  7. Untuk Apa Ada Remidi?
  8. Mengapa Kamu Harus Remidi?
  9. Remidi Buat Kamu Adalah Suatu Keuntungan Atau Kerugian? Mengapa?
  10. Mengapa Kamu Mengerjakan Remidi Ini?
  11. Apa Yang Kamu Harapkan Setelah Mengerjakan Remidi Ini?

OKTAVIA DYAH

  1. Mengapa Virus N-Ach Bisa Membuat Suatu Perubahan Sosial?
  2. Bagaimana Pandanganmu Mengenai Perkembangan Modernisasi Di Indonesia?
  3. Jelaskan Mengapa Mode Fashion Merupakan Suatu Bentuk Perubahan Sosial Yang Pengaruhnya Kecil?
  4. Bagaimana Terjadinya Perubahan Sosial Dalam Pandangan Multilined Theory Of Evolutions?
  5. Mengapa Keluarga Memiliki Fungsi Afeksi?
  6. Mengapa Basic Institution Itu Penting?
  7. Untuk Apa Ada Remidi?
  8. Mengapa Kamu Harus Remidi?
  9. Remidi Buat Kamu Adalah Suatu Keuntungan Atau Kerugian? Mengapa?
  10. Mengapa Kamu Mengerjakan Remidi Ini?
  11. Apa Yang Kamu Harapkan Setelah Mengerjakan Remidi Ini?

RAVI QURNI

  1. Ada Sekelompok Masyarakat Yang Tidak Mau Berubah, Mereka Sangat Ingin Mempertahankan Tradisi Nenek Moyangnya Dan Menganggap Perubahan Sosial Terutama Yang Mengarah Kepada Modernisasi Dan Teknologi Hanya Akan Merusak Tatanan Sistem Sosial Budaya Mereka. Bagaimana Pandanganmu Mengenai Realitas Sosial Tersebut?
  2. Menurutmu Bagaimana Caranya Agar Kita Tidak Menjadi Seorang Yang Memiliki Sikap Sekularisme?
  3. Mengapa Masyarakat Membutuhkan Subsidiary Institutions?
  4. Keluarga Juga Memiliki Fungsi Sebagai Sarana Menutup Rasa Malu Bagi Remaja-Remaja Yang Terlanjur Hamil Duluan Sebelum Menikah,  Menurutmu Fungsi Keluarga Sebagai Sarana Menutup Rasa Malu Tersebut Merupakan Fungsi Manifes Atau Laten, Jelaskan!
  5. Untuk Apa Ada Remidi?
  6. Mengapa Kamu Harus Remidi?
  7. Remidi Buat Kamu Adalah Suatu Keuntungan Atau Keruguan? Mengapa?
  8. Mengapa Kamu Mengerjakan Remidi Ini?
  9. Apa Yang Kamu Harapkan Setelah Mengerjakan Remidi Ini?

RAYYAN YUDHA

  1. Tugas Remidi UTS Belum Dikumpulkan! Segera Cari Artikel Di Internet Mengenai Perubahan Sosial Revolusi Dan Mengenai Perubahan Sosial Yang Disebabkan Karena Perang!
  2. Bagaimana Terjadinya Perubahan Sosial Dalam Pandangan Multilined Theory Of Evolutions?
  3. Mengapa Masyarakat Tidak Akan Pernah Berhenti Mengalami Perubahan Sosial?
  4. Mengapa Virus N-Ach Bisa Membuat Suatu Perubahan Sosial?
  5. Apa Saja Ancaman Globalisasi Yang Memiliki Potensi Besar Untuk Merusak Bangsa Indonesia?
  6. Untuk Apa Ada Regulative Institutions?
  7. Bagaimana Suatu Enacted Institutions Bisa Terbentuk?
  8. Agama Juga Memiliki Fungsi Laten Sebagai Sarana Mengembagkan Kesenian, Apa Maksudnya?
  9. Untuk Apa Ada Remidi?
  10. Mengapa Kamu Harus Remidi?
  11. Remidi Buat Kamu Adalah Suatu Keuntungan Atau Kerugian? Mengapa?
  12. Mengapa Kamu Mengerjakan Remidi Ini?
  13. Apa Yang Kamu Harapkan Setelah Mengerjakan Remidi Ini?

SANDI YULIANTO

  1. Tugas Remidi UTS Belum Dikumpulkan! Segera Cari Artikel Di Internet Mengenai Invention Dan Mengenai Perubahan Sosial Yang Disebabkan Karena Konflik Dalam Masyarakat!
  2. Ada Sekelompok Masyarakat Yang Tidak Mau Berubah, Mereka Sangat Ingin Mempertahankan Tradisi Nenek Moyangnya Dan Menganggap Perubahan Sosial Terutama Yang Mengarah Kepada Modernisasi Dan Teknologi Hanya Akan Merusak Tatanan Sistem Sosial Budaya Mereka. Bagaimana Pandanganmu Mengenai Realitas Sosial Tersebut?
  3. Mengapa Munculnya Suatu Penemuan Baru Bisa Membuat Suatu Perubahan Sosial?
  4. Bagaimana Pandanganmu Mengenai Perkembangan Modernisasi Di Indonesia?
  5. Menurutmu Bagaimana Caranya Agar Kita Tidak Menjadi Seorang Yang Memiliki Sikap Sekularisme?
  6. Untuk Apa Ada Regulative Institutions
  7. Mengapa Keluarga Memiliki Fungsi Afeksi
  8. Bagaimana Suatu Keluarga Menerapkan Fungsi Proteksinya?
  9. Untuk Apa Ada Remidi?
  10. Mengapa Kamu Harus Remidi?
  11. Remidi Buat Kamu Adalah Suatu Keuntungan Atau Kerugian? Mengapa?
  12. Mengapa Kamu Mengerjakan Remidi Ini?
  13. Apa Yang Kamu Harapkan Setelah Mengerjakan Remidi Ini?

NURUL HIDAYAH

  1. Bagaimana Terjadinya Perubahan Sosial Dalam Pandangan Multilined Theory Of Evolutions?
  2. Jelaskan Mengapa Mode Fashion Merupakan Suatu Bentuk Perubahan Sosial Yang Pengaruhnya Kecil?
  3. Bagaimana Suatu Enacted Institutions Bisa Terbentuk?
  4. Mengapa Masyarakat Membutuhkan Subsidiary Institutions?
  5. Mengapa Keluarga Memiliki Fungsi Afeksi?
  6. Untuk Apa Ada Remidi?
  7. Mengapa Kamu Harus Remidi?
  8. Remidi Buat Kamu Adalah Suatu Keuntungan Atau Kerugian? Mengapa?
  9. Mengapa Kamu Mengerjakan Remidi Ini?
  10. Apa Yang Kamu Harapkan Setelah Mengerjakan Remidi Ini?

PIPIT FITRIANI
Tugas pengganti ulangan Lembaga Sosial harus segera dikumpulkan!

____________________________________________________________
SOAL ANALISIS BAGI YANG TIDAK REMIDI….JIKA BERMINAT SILAKAN DIKERJAKAN….

  1. Ada Sekelompok Masyarakat Yang Tidak Mau Berubah, Mereka Sangat Ingin Mempertahankan Tradisi Nenek Moyangnya Dan Menganggap Perubahan Sosial Terutama Yang Mengarah Kepada Modernisasi Dan Teknologi Hanya Akan Merusak Tatanan Sistem Sosial Budaya Mereka. Bagaimana Pandanganmu Mengenai Realitas Sosial Tersebut?
  2. Jelaskan Mengenai Suatu Penemuan Baru Akan Menjalar Dan Mendorong Terciptanya Penemuan-Penemuan Berikutnya!
  3. Apa Perbedaan Pola Pikir Manusia Modern Dengan Manusia Yang Berpikiran Konservatif/Suka Dengan Cara-Cara Lama?
  4. Menurutmu Bagaimana Caranya Agar Kita Tidak Menjadi Seorang Yang Memiliki Sikap Sekularisme?
  5. Bagaimana Proses Yang Harus Dilalui Suatu Lembaga Sosial Agar Bisa Diterima Masyarakat?
  6. Keluarga Juga Memiliki Fungsi Sebagai Sarana Menutup Rasa Malu Bagi Remaja-Remaja Yang Terlanjur Hamil Duluan Sebelum Menikah,  Menurutmu Fungsi Keluarga Sebagai Sarana Menutup Rasa Malu Tersebut Merupakan Fungsi Manifes Atau Laten, Jelaskan!
  7. Untuk Apa Ada Remidi?
  8. Mengapa Kamu Tidak Remidi?
  9. Tidak Diharuskan Untuk Remidi Buat Kamu Adalah Suatu Keuntungan Atau Kerugian? Mengapa?
  10. Mengapa Kamu Mengerjakan Soal-Soal Ini?
  11. Apa Yang Kamu Harapkan Setelah Mengerjakan Soal-Soal Ini?
Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya....

Tuesday, May 18, 2010

C. U. there....




Dari Anas bin Malik r.a. berkata, bahwa Rasulullah SAW apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, "Allahumma bariklana fii rajab wa sya'ban, wa balighna ramadhana." (Ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya'ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.) HR. Ahmad dan Tabrani.
Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya....

Thursday, February 25, 2010

Aku, Bus Penuh Sesak dan Wanita Berpeluh Ini

"Aku tak tahu ini cinta atau apa, yang pasti aku masih lega karena dia masih ada di dekatku meski aku tak tahu dia itu ibuku atau bukan...."

AKU terhentak-hentak dalam gendongan ibuku yang berlari-larian mengejar bus itu, panas sekali siang ini, peluh membasahi kaos dan topi peciku yang aku rasa kan mulai gatal ini. ibuku berhenti berlari bus itu melaju kencang, tak terkejar, hanya meninggalkan kepulan asap hitam yang menghantam wajahku, membuat mataku perih. Ibuku berdiri terengah engah, keringat di kulit lehernya yang berkilat jelas sekali dalam pandangan mataku, yang tepat berada di depan lehernya itu. Dalam pelukan ibuku yang erat ini aku tak mengerti mengapa aku selalu dibawanya berlarian mengejar bus-bus besar yang kotor, pengap, bising dan mengakrabi sesaknya penumpang, setiap hari.

Belum selesai juga, lagi... sebuah bus datang, aku kembali terhentak dalam gendongan ibuku yang berlari kencang, sungguh ini sama sekali tidak nyaman. Aku dibawanya melompat masuk ke dalam bus dan menyeruak diantara para penumpang yang berdiri, aku merasakan sepertinya mereka sedikit risih dengan kehadiran kami di tengah mereka.

Dan mulailah seperti biasa, ibuku memainkan sebuah benda di tangannya, benda ini aku tak tahu namanya, sebuah kayu kecil dengan beberapa bekas tutup botol yang dipaku di kayu itu, yang pasti ketika digerak-gerakkan akan mengeluarkan suara yang sejujurnya menurutku sama sekali tidak merdu dan sama sekali tanpa sentuhan harmoni sedikitpun pada komposisi ritmenya.

Tapi bagaimanapun juga benda itulah yang menjelma menjadi orkestra ajaib yang mengiringi ibuku bernyanyi, tanpa bosan meski selalu hanya lagu itu yang didendangkannya.

Ah akhirnya selesai juga ibuku bernyanyi, dan kini tibalah giliranku melakukan tugasku, ya... jangan dikira aku tidak punya job desk di sini, aku juga berperan, dan sepertinya efek dari peranku ini jauh lebih besar dari apa yang dilakukan ibuku tadi, meski tugasku hanya menyusuri bus dari depan ke belakang dalam gendongan ibuku sambil membawa plastik kumal seukuran 20x15 cm bekas bungkus permen Kopiko, tapi dengan itulah orang orang memasukkan uangnya kedalam plastik itu, satu yang aku yakin bahwa mereka memasukkan uangnya bukan karena menghargai suara ibuku yang bernyanyi tadi, tapi aku yakin sekali para penumpang memberikan uangnya karena diriku ini, mereka berempati kepadaku,seorang anak kecil yang belum genap berusia tujuh tahun dengan tubuh kurus, kotor dan yang jelas mereka iba dengan kondisiku yang tidak seperti anak seusiaku pada umumnya... orang bilang aku ini menderita autisme sindroma rett, atau semacam itu.

Aku tak mengerti itu, karena menurutku aku biasa-biasa saja, tidak merasakan sesuatu yang aneh dan kurang dibanding anak-anak lain, setidaknya itu yang aku rasakan. Okelah, memang untuk anak seusiaku seharusnya aku sudah lancar berbicara, tertawa, bernyanyi dan kuakui aku belum mampu melakukan itu, setidaknya sampai detik ini. Tapi aku merasa baik-baik saja kok. Selain itu, seharusnya di usiaku ini aku sudah bisa berlari-larian kemana-mana, dan sekali lagi kuakui aku memang belum bisa melakukan itu, lagi-lagi setidaknya sampai saat ini.

Tetapi dengan keadaanku yang seperti ini nyatanya aku bisa memperoleh uang yang lebih banyak dibandingkan dengan anak-anak seusiaku yang lain, mereka bisa berlarian sendiri meloncat dari satu bus ke bus lain, menghampiri setiap kendaraan di perempatan lampu merah tanpa perlu digendong ibunya seperti aku, dengan kemandirian mereka itu nyatanya mereka tetap selalu kalah jauh pendapatannya dibandingkan dengan pendapatanku. Dan sekali lagi aku tak tahu kenapa bisa begitu, aku tak tahu apakah keadaanku sekarang ini adalah kelebihanku atau kekuranganku....

Tapi sepertinya dengan keadanku ini banyak orang yang mengasihani aku dan ini nyata-nyata telah banyak memberikan keuntungan berlebih pada ku dan ibuku, tapi satu pertanyaanku lagi yang belum kutemukan jawabannya, yaitu... mengapa aku harus dikasihani? Jika memang aku harus dikasihani mengapa anak-anak yang lain tidak? Mengapa aku dianggap berbeda? Tapi sekali lagi, dengan keadaanku yang seperti ini aku sungguh merasa tidak perlu dikasihani, aku merasa baik-baik saja kok, bukankah aku tidak terlalu berbeda dengan yang lain? Sebenarnya ada apa sih denganku?

Selalu setiap saat aku hanya bisa bertanya kepada diriku sendiri di dalam hati, ya dalam hati saja aku bisa mengungkapkan semua hal yang ada dalam pikiranku karena aku tidak tahu bagaimana caranya mengkonversi buah pikiranku menjadi susunan kalimat yang lalu akan kukeluarkan menjadi suara dari mulutku ini sehingga bisa dipahami oleh orang lain, aku tak tahu bagaimana caranya berbicara seperti orang-orang pada umumnya, setidaknya sampai detik ini. Dan karenanya pula aku juga belum bisa mengatakan sebuah pertanyaan penting kepada wanita berpeluh yang selalu menggendongku ini, untuk memastikan apakah dia benar-benar ibuku....
Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya....

Wednesday, February 17, 2010

Kekerasan Psikis : Luka Kecil di Hati si Kecil Meski Tak Tampak Tapi Menyakitkan

Banyak anak yang malah merasa senang dan nyaman ketika orang tuanya tidak berada di rumah....
Banyak orangtua yang menilai anak-anak zaman sekarang sudah tidak memiliki tata krama dan rasa hormat kepada orangtua-nya, mungkin sebaiknya para orangtua itu menilik kembali bagaimana intensitas hubungannya dengan anak-anaknya, pola asuh, pencontohan sikap dan pembangunan karakter anak sejak kecil.

"MAH, bacain ini mah" Sore itu Sisi (4 tahun) merengek pada minta dibacakan buku cerita kepada mamanya. Mamanya baru turun dari mobil, pulang dari kantor dan tampak suntuk dan kelelahan menolak permintaan Sisi.
"Nanti malam saja ya sayang, mama mau istirahat dulu".
"Nggak mau, nggak mau, sekarang..." Sisi terus merengek sambil menarik-narik rok mamanya yang sedang merebahkan diri di sofa. Sisi terus merengek, dan sang mama diam saja tidak menjawab. Sisi tetap tidak berhenti merengek, hingga mamanya berteriak keras, " Sisi..!! bisa diam tidak!! Mama jewer kamu nanti, mama lagi pusing, sana sama bibi, denger nggak mama bilang apa...sana...!!"

Sangat wajar emosi memuncak ketika hati sedang tidak nyaman, pikiran suntuk, stres beban pekerjaan dan capek, masih ditambah lagi dipancing oleh rengekan anak yang membikin tambah pening. Sisi memang salah, tapi bagaimanapun dia adalah balita yang belum bisa melihat realita. Sisi mungkin kemudian menurut dan diam tapi kita tidak pernah tau ada apa dibalik pikiran dan hatinya ketika itu. Anak bisa menyimpan dendam dan rekaman kejadian dalam alam bawah sadarnya, dan akumulasinya akan bermuara pada karakter, sikap, dan cara menyelesaikan masalah secara tidak tepat.

Yang perlu diperhatikan juga adalah kebiasaan dan cara pembantu, pengasuh atau baby sitter di rumah ketika orang tua sedang tidak berada di rumah, terutama para pengasuh yang kurang berpengalaman dan tidak mendapat pelatihan yang baik, sering memakai kata-kata bernada tinggi dan gertakan atau gerutuan ketika telah kehabisan cara dalam menghadapi anak yang rewel dan merengek atau ketika anak tidak berhenti menangis.

"Tapi aku nggak suka main piano yah..." Vino (11 tahun) memprotes keputusan ayahnya yang tiba-tiba telah mendaftarkannya ke sebuah les piano. "Vino, sini, dengarkan ayah, les piano bagus untuk Vino, anak-anak teman ayah juga banyak yang ikut les piano, dan mereka sekarang sudah bisa ikut festifal kemana-mana, ayah mau Vino seperti itu ya, ayah nggak mau dengar lagi, pokoknya Vino harus mau", kata ayah Vino memberi alasan.
"Tapi Vino kan sudah pernah bilang ke ayah, Vino kan pengen kursus karate yah... "
"Buat apa karate karate segala, nggak perlu itu"
"Tapi yah, aku nggak mau.."
"Vino!!..!, ayah sudah ambil keputusan, pokoknya tiap Selasa dan Kamis sore ayah akan antar kamu ke les piano, titik."

Setiap anak memiliki hak untuk ikut serta dalam menentukan keputusan yang menyangkut dirinya. Meski anak-anak adalah manusia baru, tetapi di sisi lain itu bukan berarti mereka tidak tahu apa-apa, mereka juga membutuhkan ekspresi pemikiran dan penyampaian pendapat. Anak-anak secara alamiah memiliki keinginan sendiri dalam hidupnya, mereka memiliki hidup dan dunianya. Sayangnya tanpa sadar kita sering menginginknan anak-anak menjadi apa yang kita mau karena ego kita, gengsi kita ketika melihat anak teman bisa melakukan banyak hal, dan berprestasi. Kita sering terjebak keinginan dan impian sendiri, dan celakanya lagi tanpa disadari anak kita menjadi sarana pemuas pencapaian keinginan kita demi kebanggaan dan gengsi.

Kalaupun mungkin keinginan anak tersebut benar-benar tidak tepat atau membahayakan dirinya maka bukan sebuah gertakan dan pemaksaan yang menjadi jawabannya. Anak yang pendiam, pemurung adalah indikasi kekerasan psikis yang berhubungan dengan emosi ini, pada tingkat yang lebih jauh anak akan menjadi seorang pemberontak bahkan demonstrator yaitu selalu menunjukkan penolakan dan konta pendapat dengan orang tuanya dalam rangka menunjukkan protes. Tapi bukannya simpatik yang didapat si anak, yang ada anak malah semakin berada dalam posisi dipersalahkan dan dianggap bandel. Kebanyakan orang tua tidak menyadari bahwa sikap memberontak anaknya itu adalah rangkaian dari kekecewaannya yang terdahulu.

Boni (8 tahun) dimarahi habis-habisan oleh ayahnya karena memecahkan vas bunga saat dia bermain bola di ruang tamu, begitu ayahnya tahu, tanpa dialog pembuka terlebih dahulu, , langsung saja berbagai kata kasar keluar dari emosi sang ayah. Boni hanya diam dan tertunduk, tapi tahukah sang ayah apa yang ada dalam pikiran Boni ketika dia tertunduk? Ketakutankah? Rasa dendamkah? Kebingungankah?

Lalu pelajaran apa yang didapat dari omelan itu, akankah mereka kemudian akan berbuat sopan dan disiplin? Ya, tapi disiplin yang muncul adalah disiplin karena rasa takut, bukan disiplin karena kesadaran dan pemahaman. Suatu ketika mereka berbuat kesalahan lagi dan tanpa adanya saksi yang melihat akankah mereka akan berani mengakui kesalahnnya?

"Aduh gimana nih aku nggak sengaja mecahin guci, aduh sebaiknya aku ngaku nggak ya? bilang nggak ya? ketahuan nggak ya? eemmm...dulu aja cuma mecahin vas dimarah-marahinin dan dihukum ayah sampai berhari-hari, ah mending diem aja ah, ngapain juga mengaku, ntar aku dimarahin lagi, biarin aja ah..." Itu adalah apa yang ada dalam pikiran Boni atau anak-anak lain sebagai efek trauma hukuman yang tidak tepat. Mereka akan belajar berbohong demi menyelamatkan diri, dan inilah pelajaran yang mereka petik itu, sebuah pelajaran yang sangat beresiko tinggi jika kelak terbawa hingga dewasa.

Anak-anak adalah manusia baru, jika mereka berbuat kesalahan bukan berarti mereka bodoh, tolol, atau tak tahu diri. Mereka butuh bimbingan untuk memilih cara yang tepat dalam menyelesaikan masalah. Berdialaog baik-baik, tentu dialog ini disesuaikan dengan usia anak, duduk bersama dan biarkan anak-anak menceritakan kejadian atau kesalahan yang baru dilakukannya. Poin pentingnya adalah hargai dan beri pujian ketika anak bisa menceritakan kesalahannya, besarkan hatinya ketika anak mau mengakui kesalahan, lalu stop mengungkit ungkit kesalahan anak yang sudah berlalu. Berikan konsekuensi yang tepat, mendidik serta tetap menempatkan anak dalam posisi yang terhormat, maksudnya bahwa konsekuensi atau hukuman yang diberikan jangan sampai menjatuhkan mental dan kepercayaan diri anak, seperti disuruh berdiri di halaman rumah, dikunci di luar rumah atau hukuman lain dengan cara yang memalukan. Bahkan hingga saat ini, di sekolah pun masih banyak penerapan hukuman yang membuat anak tersiksa secara psikis, dijemur di bawah terik matahari atau membersihkan kamar mandi, ketika dia tahu teman-temannya melihat dia dihukum dan teman-temannya pun menertawakannya maka hukuman itu akan menjadi luka hati yang parah dan berbekas dalam waktu lama.

Luka hati yang membekas lama juga sering dialami oleh anak yang sering dibanding-bandingkan dengan sepupu atau anak tetangga yang kebetulan berprestasi lebih bagus. " Tuh kan Alya aja selalu dapat rangking satu terus, kamu ini selalu bikin ibu malu, nilai apaan ini rangking sepuluh besar aja nggak pernah bisa, ah memang dasar kamu itu...." Demikian kalimat yang selalu di dengar Ani (12 tahun), kalimat yang selalu muncul dari mulut ibunya setiap kali penerimaan raport dan membandingkannya dengan Alya teman sekelasnya yang kebetulan rumahnya juga berdekatan.

Ani memang sedikit lambat dalam memahami pelajaran, bukan karena tidak mau belajar, tapi kemampuannya memang sebatas itu. Banyak anak yang seperti Ani, sedikit kurang beruntung karena kemampuan otak yang memang berbeda-beda pada tiap manusia, banyak faktor yang mempengaruhi, seperti gizi atau bisa jadi adalah kekurangan yang merupakan bawaan sejak lahir. Anak yang merasa gagal sebenarnya sudah tertekan dengan kegagalannya sendiri tapi masih ditambah lagi dengan penjatuhan mental yang merupakan pelapiasan kekecewaan dari orang tuanya, dengan penyebutan atau labelling misalnya dengan kata dasar malas atau anak bodoh. Labelling hanya akan menyebabkan perilaku dan sikap yang lebih parah, labelling bisa menimbulkan anggapan kepalang tanggung atau terlanjur basah, "toh aku sudah dijuluki anak bodoh ngapain juga aku belajar kan sama saja." Belum lagi timbul perasaan dendam dan kebencian yang tidak disadari tumbuh perlahan terhadap anak yang selalu dijadikan bahan perbandingan dengan dirinya. Ani tanpa sadar bisa menaruh kebencian kepada Alya, padahal Alya tidak bersalah.

Kemudian yang perlu selalu dipahami bahwa kita harus melihat anak dengan perspektif Multiple Intelligences, setiap anak selalu memiliki potensi kecerdasan masing-masing, termasuk di dalamnya antara lain kecerdasan musikal, spasial, interpersonal maupun intrapersonal. Multiple Intelligences ini sama sekali tidak diukur hanya sebatas melalui nilai raport.

Anak butuh support, dan bentuk support yang paling sederhana tapi membuat anak memiliki rasa percaya diri adalah pujian dan reward. Jangan pelit memberikan pujian kepada anak, sekalipun pencapaiannya belum maksimal, tapi berikan pujian atas usahanya. Lalu reward atau hadiah adalah sangat penting bagi anak, tentu disesuaikan sebatas pencapaiannya. Berbicara mengenai reward, kita sering lupa bahwa kebutuhan anak adalah disayangi dan wujud rasa sayang itu, bisa berupa pelukan, ciuman sayang, dan belaianpun bisa menjadi hadiah yang sangat berkesan bagi anak.

Kekerasan psikis tidak banyak kita sadari telah kita lakukan pada anak-anak kita, anak didik ataupun anak-anak disekitar kita. Sekali lagi harus dipahami anak adalah manusia baru yang masih belum banyak tahu apa-apa didalam kehidupannya, hal ini jarang disadari dan membuat kita terlalu berlebihan ketika mereka berbuat kesalahan. Anak anak belajar dari dunia di sekelilingnya, meniru, ikut-ikutan dan menjiplak apa yang dilihat dan didengarnya. Anak-anak betindak hanya berdasakan kesenangan, dan memang seperti itulah dunia anak-anak.
(also published at www.eccd-rc.blogspot.com).


Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya....

Tuesday, February 2, 2010

Facial Refresh

SAATNYA ganti wajah. Plangplung sedikit ganti wajah...
Yup, biar lebih seger aja.
Selain itu, mohon maaf buat temen-temen visitors, karena komen-komen yang telah diberikan temen-temen selama ini terpaksa hilang. Hal ini karena Haloscan.com, yang selama ini menjadi penyedia layanan komen dan telah selama sekitar dua setengah tahun menjadi andalan plangplung telah mengubah kebijakannya sejak Februari tahun ini, sehingga plangplung terpaksa tidak memakai jasa Haloscan.com lagi. Anyway... life must goes on.... :) Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya....

Sunday, November 8, 2009

Punai Putih (Sepotong Kisah Dalam Akhir Malam)

DIA…. di pinggir telaga, malam ini. Menanti hujan bukan karena dahaga. Punai putih di pinggir telaga menanti hujan berharap pintu langit terbuka, demi serangkai doa….

Punai putih, ingin nikmatnya harum serumpun melati di seberang telaga. Tapi….Punai putih bersayap kecil. Berkali dan berkali, mencoba dan mencoba. Tak kuasa, sepanjang nafas, sepanjang hari. Pikirnya, dia….tak kan sanggup melewati telaga.

Berdiam diri melewati tengah malam, menggigil dingin tertusuk angin dini hari. Tak beranjak meski paruhnya kini membiru, bulu-bulu menegang membeku, kuku kuku lunak retak bagai telah renta. Punai putih, tiada surut, tak ada susut, karena ini bukan derita. Sekuat-kuatnya diri menancap terpaku, memaksa kukuh. Hanya karena percaya.

Punai putih tak sadar kini terpejam. Hingga… Punai putih tak merasakan rintik hujan telah turun, makin deras dan makin curah memuntah tanpa ampun, beriring hembus angin malam yang beku, kencang, bertiup, menghantam tubuh kecil yang kini tanpa daya, jatuh tak sadarkan diri…

Dalam menanti hingga dia hampir mati.

Tetapi…,Punai putih di pinggir telaga itu, tak menyadari, kini…,angin dingin itulah sang penghembus sejati harum serumpun melati,
sangat harum, sangat sangat harum,
hingga masuk, masuk ke dalam hati,
hingga dalam, dalam ke dalam hati,
lebih, melebihi mimpi,
melebihi harapannya,
yang tak pernah terbayangkan,
ternyata ini jauh lebih bermakna.

Karena ternyata pintu langit benar benar bisa terbuka,
benar benar bisa terbuka….
dan doanya…,
sungguh sungguh telah hadir di depan mata.
Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya....

Monday, October 5, 2009

Kesulitan....



klik di sini untuk melihat video di atas melalui youtube

GAMBARAN sederhananya barangkali seperti dalam sketsa video itu ya, kita sering menggerutu, marah, sampai memaki-maki, jika ada sesuatu kesulitan yg menghambat. Padahal hambatan atau kesulitan itulah yang suatu saat ternyata malah akan menyelamatkan kita.

Atau bahkan lebih dari itu, karena pada beberapa orang yang luar biasa, sebuah hambatan bisa menjadi prestasi yang mengagumkan, seperti apa yang telah dilakukan orang-orang luar biasa dalam sketsa video berikut....




klik di sini untuk melihat video di atas melalui youtube

Sungguh, benar-benar luar biasa sekali ya....
Mungkin sketsa video tersebut tidak terlalu asing lagi bagi kita, dan berkali-kali pula di berbagai kesempatan menyaksikan itu, termasuk saya. Tetapi semakin sering menyaksikannya, semakin saya sendiri tidak tahu harus bagaimana menyikapinya, harus tersenyum kagum atau menangis....
Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya....

Saturday, September 12, 2009

Thank You Malaysia....

LAGI rame nih ngomongin Malaysia, klaim sana klaim sini, caplok ini caplok itu. Saya tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran orang-orang Malaysia atau mungkin oknum Malaysia yang mau main-main dengan hak milik atau lebih tepatnya sesuatu yang sejak turun temurun berada di Indonesia, apa misinya, apa tujuan nya dan berbagai hal dibalik kembali cederanya hubungan Indonesia-Malaysia. Nah, karena ketidak mengertian saya itulah maka tidak sepantasnya saya berpikir negatif dulu terhadap Malaysia, sebuah negara yang tidak terlalu saya kenal. Yah setidaknya sampai saya bisa benar-benar menghilangkan pikiran negatif saya selama ini terhadap sebuah negara yang sudah hampir seperempat abad lebih saya kenal, Indonesia.

Tampak sekali nasionalisme bangsa Indonesia meletup-letup ketika sesuatu yang merasa miliknya disinggung, lewat dialog dan diskusi akademis, slogan, demonstrasi, protes jalanan, surat terbuka, diplomasi kenegaraan, pengumpulan dukungan melalui jejaring sosial, hingga siap sedia melancarkan perang. Nasionalisme? apa bukannya lebih tepat jika disebut fanatisme ya? bukankah bangsa kita ini memang memiliki budaya fanatik terhadap apa yang dia rasa sebagai miliknya. Lalu apa bedanya nasionalisme dengan fanatisme?

Menurut saya fanatisme bangsa indonesia memang bersumbu pendek-- lihat persepak bolaan kita, perang antar kampung, sekolah, atau lihat kejadian di solo, konflik ambon, kalimantan, sedikit saja dipancing maka tidak butuh waktu lama, emosi akan meledak, dan ledakan emosi ini adalah kumpulan amarah rasa frustasi dan lain lain yang telah tersimpan lama, karena kemiskinan, masalah keluarga, stress dan lain-lain yang mendapatkan pelampiasan langsung.

Salah satu media massa tertua di Indonesia memuat berita sebuah unjuk rasa berlabel Ganyang Malaysia, di sebuah kota di Jawa Tengah bubar, hanya karena hujan gerimis turun, beberapa aksi menarik yang telah diagendakan batal dan aksi yang sedianya berlangsung menggebu-gebu itu hanya tinggal menyisakan dua orang saja. Lalu yang namanya nasionalisme itu seperti apa? Terlepas dari apresiasi, kekaguman dan rasa hormat saya yang setinggi-tingginya terhadap para pahlawan pejuang kemerdekaan, tapi diluar itu saya sendiri pun masih sering bertanya dalam hati, apakah saya punya nasionalisme terhadap Indonesia?

Lalu jika terus menghujat Malaysia, dan ketika kemudian Malaysia meminta maaf, melakukan klarifikasi tingkat global, bahkan mungkin memberikan kompensasi kerugian, apakah lalu kita akan menyaksikan dengan bangga sajian Tari Pendet, melestarikan Reog, atau lebih dalam lagi seperti belajar membatik misalnya.

Apakah dulu sebelum ada klaim Malaysia kita membicarakan Reog dan Tari Pendet seheboh ini? Lebih dari itu sekarang pun kita sudah hampir melupakan perkembangan blok minyak ambalat, belum lagi kita benar-benar tidak pernah membicarakan keadaan saudara-saudara kita yang telah hidup turun temurun di wilayah-wilayah perbatasan, yaitu di pulau-pulau terluar Indonesia.

Perlukah membicarakan pulau Sebatik lagi? Mungkin itu adalah cerita lama, dimana rahasia umum bahwa warga negara Indonesia di Sebatik lebih merasa nyaman beraktifitas di Malaysia. Bahkan muncul pula sebutan ibu pertiwi dan bapak pertiwi di sana, mana yang ibu mana yang bapak, Indonesia atau Malaysia? Sepertinya tidak terlalu penting untuk dibahas disini sekarang.

Sedikit untuk penyegaran, beberapa kilometer ke timur kita akan menjumpai Pulau Mianggas yang masuk ke kabupaten Talaud, Sulawesi utara. Coba cek, ambil secara acak sepuluh orang saja warga Mianggas dan tengok isi dompetnya, hampir dipastikan ada mata uang Peso didalamnya, bahkan mungkin mereka sama sekali tidak membawa Rupiah. Sebenarnya wajar saja, karena jarak Mianggas dengan Filipina lebih dekat daripada dengan Pulau Sulawesi. Beberapa bendera Filipina pun dikabarkan bebas berkibar disana, uniknya salah satu alasan pengibaran bendera itu adalah sebagai upaya untuk memancing perhatian pemerintah Indonesia agar memperhatikan mereka, tapi ternyata upaya meraka itu mungkin belum cukup.

Kita melompat lagi ke terus ke timur, dan ada pulau Bepondi di sana, termasuk wilayah kabupaten Biak. Lebih kurang 530-an jiwa tinggal di pulau itu seluas 2,5 km2 itu. Kesejahteraan warganya? hmm.. jangan kan warga Pulau Bepondi, warga Papua yang pulaunya jelas-jelas selalu tercetak di peta dunia saja masih banyak yang tidak tersentuh pelayanan pendidikan dan kesehatan, apalagi warga pulau kecil Bepondi ini.

Belum lagi kalau kita membicarakan gugusan Pulau Mapia, wilayah Kabupaten Supiori, masih di Papua. Ini dia wilayah negara kita yang sangat berprospek untuk dicaplok negara lain, potensi Mapia sangat bagus untuk di bidang periakanan, pertanian dan perkebunan. Gugusan pulau yang unik menjadi daya tarik eksotis wisata petualangan dan wisata bawah laut karena keindahan biota laut yang masih belum banyak terjamah. Saya yakin beberapa negara asing yang berbatasan langsung dengan pulau ini, seperti Filipina, Papua Nugini bahkan negara kecil Republik Palau pun sepertinya telah meneteskan air liur ingin mengakui pulau ini, prospektif sekali. Saya yakin Indonesia juga sudah sejak lama menyadari prospek luar biasa wilayah ini, tapi apakah cukup hanya menyadari saja?

Lalu tanyakan kepada kesemua penduduk yang tinggal di pulau-pulau terluar itu, apakah mereka bangga menjadi warga negara Indonesia?

Atau, andai saja Pendet dan Reog bisa bicara, mungkin akan lebih jelas bagi kita semua untuk mengetahui apakah mereka berdua lebih merasa nyaman berstatus sebagai budaya Indonesia atau berstatus sebagai bagian pariwisata Malaysia.

Sekali lagi, thank you Malaysia, mungkin kalau kamu tidak berbuat curang dan berkelakuan tidak fair seperti sekarang ini, negaraku tercinta ini tidak akan serius menjaga diri, tidak akan sibuk mengamankan diri, dan akan terus meremehkan arti pentingnya kewaspadaan dan kepedulian.
Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya....

Tuesday, July 7, 2009

If Tomorow Never Comes....

SEBUAH kalimat yang saya kutip dari judul salah satu lagu milik Ronan Keating yang liriknya mengkisahkan sesuatu yang sangat mungkin bisa dilihat dan dimaknai dari berbagai macam sisi dan sudut pandang, tergantung dari bagaimana kita memahaminya.

Inti pesan lagu itu, meski dalam konteks kebalikannya, hampir serupa dengan cerita tragis mengenai seorang ibu yang saya kutip dari tulisan Ibnu Abdul Qodir Assegaf berikut ini, yang telah sedikit saya edit agar lebih ringkas tanpa mengurangi makna cerita. Mungkin bagi sebagian orang cerita ini sudah sangat familiar, namun semoga tetap bermanfaat.

Seorang ibu, Rani namanya, dengan kesibukan luar biasa. Wanita itu nyaris tiap hari terbang dari satu kota ke kota lain, dari satu negara ke negara lain. Tidak jauh beda dengan suaminya..... suami Rani ini adalah seorang yang sangat penting di perusahaannnya dan hampir tidak pernah mencium bau rumah. Mereka memiliki seorang anak, Alif namanya, usianya 3 tahun. Sejak baru lahir hingga seusia itu Alif lebih banyak menghabiskan waktu bersama Tante Mien, dialah baby sitter yang setia mengasuh Alif dari pagi sampai malam, dengan begitu Rani tinggal mengontrol dan memantau Alif melalui telepon. Beruntung mereka, Alif tumbuh menjadi anak yang lincah, cerdas dan tidak terlalu rewel ketika sering ditinggal ayah bundanya serta gampang diberi pengertian. Salah satu contohnya adalah ketika Alif meminta seorang adik kecil. Kala itu Rani dan suaminya cukup terkejut dengan permintaan itu, tapi apa mau dikata kesibukan yang luar biasa membuat mereka kembali menagih pengertian Alif agar memahami keadaan ayah bundanya itu, dan Alif ini ternyata seorang anak yang sungguh istimewa, dia tidak merengek lagi, padahal hampir setiap hari dia kerap menjumpai kepulangan kedua orang tuanya setelah larut malam, dan harus berpisah lagi ketika pagi belum sepenuhnya habis.

Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitternya. "Alif ingin bunda yang mandiin..." ujarnya dengan tatapan polos seorang balita yang penuh harap. Karuan saja Rani yang terbiasa berkejaran dengan waktu dan sangat memperhitungkan tiap detik itu menjadi gusar. Dengan tangannya yang hampir tidak pernah lepas dari ponsel sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya Rani menolak permintaan Alif. Tak seperti biasanya, kali ini Alif benar-benar merengek. Suami Rani pun tak ketinggalan ikut membujuk Alif agar mau dimandikan Tante Mien, baby siternya itu. Setelah cukup lama dibujuk akhirnya Alif menurut juga, meski dengan wajah cemberut kecewa.
Bukan cuma sehari itu saja, rengekan Alif berulang lagi di hari-hari berikutnya, setiap pagi Alif merengek terus, hingga sampai sepekan rengekan itu masih terus berulang. "Bunda, mandikan aku !!!", kian lama suara Alif semakin penuh tekanan. Namun Rani belum juga menyempatkan diri memenuhinya, Rani dan suaminya berpikir itu mungkin karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah yang biasa dialami pula oleh anak-anak seumurnya. Lagi-lagi dengan memendam kecewa Alif menerima juga penolakan ibunya yang segera pergi ke kantor meninggalkan dirinya yang masih cemberut di depan pintu.

Sorenya, Rani yang sedang berada di luar kota dikejutkan oleh telepon baby sitternya yang mengabarkan Alif demam, badannya kejang-kejang. Alif langsung dibawa ke Rumah sakit sore itu juga. Malamnya Rani baru tiba di rumah sakit. Dengan pikiran yang campur aduk, dan satu-satunya keinginannya adalah memenuhi permintaan Alif yang ingin dimandikannya. Sebenarnya setelah selama sepekan mendengar rengekan anaknya itu Rani sudah menyimpan komitmen merencanakan bahwa besok pagi dia akan menghabiskan hari bersama Alif, memandikannya, dan berencana mengajaknya jalan-jalan dan bermain di taman.

Sampai di ruang UGD, Rani langsung terduduk lemas. Allah berencana lain, semuanya telah terlambat, balita mungil yang lucu itu kini telah terbujur kaku. Alif telah dipanggil oleh-Nya.

*****

Esok siangnya, Rani benar-benar mewujudkan permintaan Alif, meski Alif kini tinggal tubuh kecil yang terbaring kaku tak bernyawa. "Ini bunda nak, bunda mandikan Alif ya sayang..." ucapnya lirih sambil berkali-kali menciumi dahi dan pipi jasad anaknya itu, di tengah jamaah pelayat yang terdiam sunyi. Satu persatu rekan-rekan Rani yang dari tadi mendampingi disampingnya mulai menyingkir, berusaha menyembunyikan tangis haru.

Ketika cangkul demi cangkul tanah merah makin mengubur jenazah Alif, Rani masih berusaha tabah menahan isak tangis dalam pelukan suaminya. Wajahnya pias, tatapannya kosong, dadanya penuh sesak.

Tanah merah kini telah benar-benar penuh mengubur balita mungil itu, para pelayat mulai meninggalkan pemakaman. Rani masih berdiri di samping pusara, hening, sepi, angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang makin tercium tajam. Tiba-tiba Rani berlutut. "Aku ibunyaaaa!!!" seru Rani histeris, tangisan Rani makin meledak. "Bangun lif, banguuun, bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan bunda sekali saja nak, sekali sajaaa, Aliiif banguuun lif...." Rani merintih mengiba sambil tertelungkup memeluk gundukan tanah yang telah mengubur jasad anaknya, air matanya tumpah membanjiri tanah yang masih merah dibawah langit senja yang makin remang.

Hmm... mungkin itu sebuah cerita yang mengaduk perasaan, terlebih bagi yang pernah menyaksikan atau bahkan mengalami keadaan serupa.

"Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Munafiqun : 11)

Jika ada orang yang berkata bahwa penyesalan selalu tidak ada gunanya, mungkin jika kita bisa lebih bijak memaknainya maka sebuah penyesalan sesungguhnya sangat berguna sekali, asalkan kita mampu meng-konversi-nya menjadi suatu monumen pengingat agar hari ini menjadi lebih baik dari hari kemarin sehingga kita selalu siap lahir batin if tomorow never comes....

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya." (Al A'raf : 34)


Wah jadi teringat salah satu seruan penutup dalam suatu training motivasi marketing sekitar dua tahun lalu ; "Come on guys !!!... the winner doesn't have time to doubt, let's do it now... or never...."

Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya....

Wednesday, June 17, 2009

Vini... Vidi... dan lalu Mengerti.

MATAHARI hampir jatuh ditelan batas bumi sebelah barat menjelang pukul 5 sore, sudah tidak terasa hangat lagi, tapi sinarnya masih sangat terang untuk membantu mata saya menyaksikan tumpuk-menumpuk ombak yang berkejaran beradu cepat berebut menjilati tepi pasir Pantai Pandansimo, pantai sederhana yang tidak terlalu ramai, pantai nelayan, sekitar 20 kilometer jika ditarik garis lurus ke arah barat dari titik wilayah garis pantai Parangtritis.

Sore itu, selepas menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan yang mengharuskan seharian berada di Kulon Progo, begitu memasuki wilayah Bantul setelah menyeberangi jembatan perbatasan dengan Kulon Progo, saya menyempatkan diri berbelok ke arah pantai itu, sekedar merefresh memori lama sekaligus merecharge rangsangan kreatifitas, sejenak menghela nafas menjauh dari "jarum jam" yang terus berputar. Tapi yang lebih penting dengan memandang permadani biru yang bergelombang menghampar seperti tak berbatas ini mungkin bisa agak membantu untuk menata kembali hati, pikiran dan perasaan ini, yang selama tepat satu tahun ini, menurut beberapa orang mungkin telah bergolak keluar dari logika.

Masih sepi....

Angin sore sangat kencang menerpa tubuh yang agak kelelahan, tapi percikan uap-uap air yang ikut terbawa menjadikan kesegaran dan sensasi khas udara pantai, meski suara hembusannya yang ber
deru menggemuruh cukup memekakkan menerjang tepat ke arah telinga.

Pasir yang ringan membuat dua kaki ini menapak dalam-dalam, sedikit terbenam ke dalam, membuatnya menyeret seperti kerukan pasir yang susul menyusul ketika beranjak bergerak langkah demi langkah, meninggalkan bekas-bekas yang menandakan tapak-tapak sisa perjalanan. Cukup sulit mengangkat kaki, terlebih ketika menemui gundukan yang menanjak agak tinggi.

Masih sangat sepi, karena memang biasanya orang-orang berdatangan sekedar berolahraga, bermain air, bercengkrama bersama keluarga, atau hanya duduk-duduk di bibir pantai ketika matahari sudah menjelang terbenam, itu berarti masih sekitar satu jam lagi pantai ini mulai agak ramai. Menurut standar pantai ini tampak 20 orang saja di area ini sudah bisa didefinisikan sebagai "ramai".

Mencari posisi....

Tak tampak seorang pun saat itu hingga dari arah barat muncul seorang laki-laki setengah baya membawa satu set jaring penagkap ikan, berjalan terus sambil sesekali berhenti memandang ke arah laut, mungkin dia mencari posisi yang paling manis untuk menebar jala dari bibir pantai. Saya mencoba mengikutinya dari kejauhan, karena memang belum tampak manusia yang lain selain bapak penjala ikan itu akhirnya saya duduk sejenak memperhatikan aktivitas satu-satunya manusia selain saya di tempat itu. Lubang-lubang jaring jala yang dibawa bapak itu adalah seleksi nasib yang berlawanan antara si bapak dan bagi si ikan, ikan yang lolos dari lubang jaring berarti dia masih punya kesempatan hidup dan ikan yang lolos itu harus belajar dari kesalahan yaitu "bahwa bermain-main di di dekat daratan ternyata memiliki resiko maut tertangkap manusia". Tapi di sisi bagi si bapak itu, seleksi nasib dari lubang jaring itulah menjadi jawaban bahwa hidup keluarga si bapak penjala ini masih bisa berlanjut, rejeki Allah melalui ikan yang tersangkut, dapur masih bisa berasap.

Armada perahu yang stand by mengantar tuannya memburu nasib....

Merasa cukup memperhatikan bapak penjala ikan itu, saya berjalan ke timur ke arah barisan armada perahu nelayan yang siap "terbang" ke tengah laut nanti malam. Perahu-perahu inilah yang akan menjadi pengantar upaya bertahan hidup sekaligus saksi takdir bagi nelayan yang menaikinya, karena sekali turun ke laut selatan, laut yang ombaknya terkenal sangat beringas itu, berarti keluarga di rumah harus siap menerima kepulangan si ayah dengan berbagai opsi fifty-fifty. Opsi yang paling sering adalah opsi pertama, yaitu ayah pulang dengan tumpukan ikan segar beraroma uang. Atau opsi kedua, yaitu ayah pulang dalam bentuk nama lebih dulu, baru kemudian tubuh sang ayah yang sudah tanpa nyawa menyusul ke daratan beberapa hari kemudian. Atau beberapa opsi lain yang mungkin lebih menyedihkan.

Ruang sempit dalam perahu yang menentukan hidup dan mati.

Nelayan tradisional seperti mereka lebih mengandalkan ilmu kebiasaan dan perasaan, mereka mungkin tidak sepenuhnya mengenal peta laut dan tidak kenal klimatologi modern, navigasi pun hanya mengandalkan bintang dan mercusuar di tepi pantai yang sangat mungkin tertutup kabut sepanjang malam. Meskipun tidak mengenal dengan detail tapi para nelayan ini memiliki sense atau perasaan tersendiri yang membuat mereka memiliki keyakinan untuk berani melaut dan mempertaruhkan hidupnya ke dalam sesuatu "yang tidak sepenuhnya mereka kenal secara mendalam itu", keyakinan yang bukan tanpa alasan dan sebenarnya memang realistis.

Tapi tindakan yang hanya mengandalkan "sense" inilah yang kadang membuat manusia tidak berpikir logis lagi pada suatu kondisi tertentu, semacam imajinasi yang gambarannya terkesan sangat indah namun bagaimanapun yang namanya imajinasi tetap imajinasi, dan imajinasi yang berada di luar rasio dan logika mungkin hanyalah mimpi palsu yang melenakan manusia, hingga membuat kita bisa "sedikit" terpeleset dari track etika yang seharusnya. Karena pada suatu kondisi tertentu manusia memang bisa berada dalam perasaan semu dan sikap irasional yang bagi diri sendiri ini adalah mimpi indah, dan karena mimpi indah itulah yang membuatnya lupa bahwa mimpi indah itu ternyata bisa merupakan suatu mimpi buruk bagi orang lain. Sering kita tidak menyadari telah terjebak dalam hal yang satu ini, kelihatannya saya sendiri masih harus banyak belajar dan berproses sendirian dalam hal ini.

Mulai banyak orang.

Pukul 5 sore telah lewat, dan benar saja, orang-orang mulai berdatangan, mengambil posisi masing-masing di beberapa titik yang disukainya, sedang beberapa pemuda terlihat berlari-lari kecil berolahraga menyusuri pantai. Mengalihkan pandangan agak jauh ke sudut tenggara, dimana terlihat beberapa anak bermain-main mengejar-ngejar kepiting kecil yang banyak besembunyi di lubang-lubang pasir. Kasihan kepiting itu berlari-larian mencoba tetap melindungi diri dengan menutupi diri dengan pasir.

Beberapa anak bermain-main menikmati pasir dan air.

Ada tiga kemungkinan utama dalam urusan kejar mengejar ini, yang pertama beberapa anak mungkin memang akan menangkap kepiting kecil itu untuk sekedar dipakai bermain-main bersenang-senang tanpa tujuan jelas. Kemungkinan kedua adalah diantara mereka mungkin ingin menangkap kepiting itu untuk diselamatkan dan disembunyikan untuk dilindungi agar tidak jadi bahan mainan anak-anak yang lain. Sedangkan kemungkinan yang ketiga mereka mengejar-ngejar kepiting itu karena mereka benar-benar membutuhkan kepiting itu untuk sesuatu yang penting, seperti untuk dijual demi memperbaiki ekonomi keluarga. Karena menurut mereka "mungkin hanya kepiting itulah" yang bisa membantu mereka dalam memperbaiki jalan hidupnya atau untuk mencapai suatu "tujuan mulia suatu cita cita istimewa", "ah... andai kepiting itu bisa memahami isi hati mereka yang terdalam tentu kepiting itu tidak akan lari menjauh". Hanya Allah yang tahu. Dan kemungkinan-kemungkinan semacam ini sangat sering menjadi dilema dalam kehidupan kita sehari-hari, sadar maupun tidak, dan kita sering kurang peka dalam memahami suatu niat dan maksud terdalam dibalik bermacam variasi tindakan-tindakan manusia dalam berinteraksi dengan diri kita.

Ini dia frame yang memuakkan, ceceran sampah.


Rumah-rumah kosong yang beberapa diantaranya memiliki "multi fungsi" bagi kehidupan malam.

Pantai ini butuh perhatian dan sedikit sentuhan penataan. Potensi pantai-pantai alami di sepanjang garis pantai selatan memiliki karakter eksotik-nya masing-masing, hanya sisi promosi-lah dan akses masuknya saja yang membedakan. Ini mengakibatkan mubazirnya peluang pembangunan ekonomi dan potensi alam, terlihat dengan adanya beberapa bangunan yang semula dibangun dan diperuntukkan sebagai fasilitas umum kini terbengkalai tak terawat.

Salah satu bangunan yang tak terawat, lumayan merusak pandangan.

Meskipun dengan dibiarkan saja seperti inipun sebenarnya masyarakat sekitar juga sudah banyak memperoleh peluang ekonomi, namun tentunya tidak maksimal dan tanpa peningkatan. Beberapa warga setempat malah mengaku lebih senang jika pantai tidak dikomersilkan, dibiarkan alami begitu saja, mungkin ada kekhawatiran dari beberapa warga terhadap lahirnya persaingan dengan kepentingan kapitalistik dan bisa mengancam mata pencahariannya yang sudah dijalani turun temurun ini atau ketakutan terhadap goyahnya tatanan sistem sosial budaya yang sudah terbentuk damai di wilayah ini.

Tapi apakah memang sebaiknya suatu kondisi yang telah berjalan baik mungkin seharusnya dibiarkan berjalan alami saja? Apalagi kondisi ini sangat rapuh dan terjaga, yang jika hanya berbekal feelling saja malah sangat beresiko merusak suasana dan tatanan hubungan yang sudah baik, benarkah memang seharusnya demikian?

Tapi jika hanya menunggu semua berjalan alami apakah mimpi itu akan terwujud sendiri? Kadang memang dibutuhkan suatu dobrakan berani untuk menyingkap rahasia, yang biasanya menyalahi kaidah dan kebiasaan, yang bisa jadi akan merubah kesan dan image diri, yang membuat diri kita sendiri seperti menjadi orang lain. Bagaimanapun setiap tindakan selalu memiliki resiko, salah satunya berujung pada antiklimaks dari suatu harapan, yaitu kita malah menjadi semakin jauh dari tujuan yang ingin dicapai itu jika dibandingkan ketika sebelum melakukan suatu tindakan apapun. Jadi... memang every brave heart is always facing an unexpected action risk.

Terbenam....

Oke, saatnya melanjutkan perjalanan lagi. Matahari telah makin menguning dan kini meringkuk menyudut hilang menyisakan semburat pita jingga halus yang unik. Semoga besok pagi ketika dia muncul kembali dari arah timur muncul pula suatu kejutan keajaiban yang tak terduga, kalaupun tidak semoga saja segalanya bisa kembali berjalan wajar seperti biasanya.

....................
Jangan klik di sini ya kalau nggak ingin baca kelanjutannya....

" ...yang kemudian hadir dan terjadi bukanlah suatu kebetulan yang sia-sia,

pertemuan dan perpisahan, ada dan tiada, jatuh dan bangun, tawa dan tangis, tampak dan samar, benar dan salah adalah berbentuk pertanyaan dan jawaban yang terdesain sedemikian rupa menjadi sebuah kepastian dan sama sekali bukan ke-tidak-pasti-an,


karenanya, karena hidup ini bukanlah suatu kebetulan, maka tidak ada alasan untuk meredupkan keyakinan demi memulai sesuatu dan lalu menyempurnakannya."


 
Template by: Abdul Munir